Budaya Jam Karet pada Masyarakat Indonesia

jam-karet

Gambar : jam karet

Banyak orang berpendapat “jam karet” (jawa: ngaret) adalah salah satu bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Nampaknya itu hanya berlaku di beberapa tempat di Indonesia (pen: semoga demikian).

Masyarakat Indonesia menjadi terbiasa dengan waktu yang fleksibel sebagai akibat budaya “jam karet”. Hal ini bisa kita amati pada acara pernikahan atau pertemuan/rapat. Masyarakat kita kebanyakan malu ketika datang paling awal pada suaru acara, sehingga mereka memilih datang paling akhir. Mereka rata-rata tidak peduli dengan akibat yang mereka pebuat. Padahal budaya semacam ini bisa berujung pada masalah degradasi moral, yaitu tentang rasa hormat atau sopan santun pada si tuan rumah.

Tak pelak budaya “jam karet” ini sampai juga pada masalah janji bertemu dengan seseorang. Orang-orang ini biasanya memiliki seribu alasan untuk membela diri seperti macet, ban kempes, motor mogok, dll.

Kita harus tahu bahwa waktu tidak bisa kembali, manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Jangan biarkan terlena oleh waktu, kita berusaha waktu yang mengejar kita bukan waktu yang mengejar kita.

Sehingga, setujukah Anda apabila budaya “jam karet” di jadikan sebagai salah satu budaya masyarakat Indonesia? Jika Anda tidak setuju, mulailah rubah diri sendiri dan orang-orang di sekitar Anda! (elvigto)

Tentang elvigto

Learner, writer dan technopreneur. Founder SangGuruGaul. Menyelesaikan studi S1 bidang Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang. Pegiat kajian islamic thought and civilizations, curriculum studies, multimedia learning studies dan kepemudaan.
Pos ini dipublikasikan di Opinion dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

20 Balasan ke Budaya Jam Karet pada Masyarakat Indonesia

  1. denologis berkata:

    aku cinta budaya indonesia!🙂

  2. edi petruk berkata:

    budaya yang memang seharusnya tidak kita budayakan

    Yup ini sebenanrnya bukan budaya bangsa Indonesia, maka dari itu harus kita hilangkan.

  3. masdjoen berkata:

    tapi kita masih di indonesia kan?? ya harap maklum. hehee. mungkinkalo di jepang gak ada jam karet. adanya jamilah.🙂

  4. bocahbancar berkata:

    Ya kenyataan yang harus kita basmi dimulai dari diri sendiri…

    Semangat…….

  5. keke berkata:

    tapi pas njagong kalo datang pertama kali jadi isin deng, ga wajar aja rasarasane. pengene bisa displin. tapi tertentu doang saja kali ya.

    Kita harus hilangkan kebiasan malu yang tidak tepat ini.

  6. dafhy berkata:

    aku cinta Endonesia

  7. wongketul berkata:

    Ngaret, molor, tidak tepat waktu ….. nggak smua kok begitu. Buktinya gak usah jauh2, orang ponorogo kalo kondangan ke Madiun bisa dipastikan mesti terlambat, sebabnya tentu sudah bisa ditebak ….. ya… yang satu terbiasa ngaret …. yang lain selalu On Time. Ada dua hal yang menjadikan “Ngaret” nggak bisa hilang yaitu (1) disiplin yang rendah dan (2)sikap toleran atau kompromi yang tinggi. Kalo mo berubah ya … rubahlah dua sikap diatas.

  8. onyel berkata:

    wadoh, kadung budaya…
    aq juga jengkel se kalo masuk kelas pas jam masuk ternyata siswa2nya lom lengkap, guru2 di kantor juga lom pada datang……
    KAPAN INDONESIA MAJUNYAAAAAAAAAA?????????

    Kita rubah mulai diri kita mbak, Ok!

  9. Anang berkata:

    Bukan Indonesia kalau tidak jam karet.

    Ini sebenarnya bukan budaya kita Om, maka dari itu mari kita rubah budaya ini.

  10. jidat berkata:

    ACIB.. aku cinta budaya indonesia

  11. Kurnianza berkata:

    Semangat demi lomba blog

  12. luvie berkata:

    jam saya digital, jadi gak dari karet.. walau kadang tetep suka telat juga.. T_T

    baiklah. saya akan coba berubah.. ^_^

  13. Sanjaya berkata:

    Tentu tidak setuju, ini budaya jelek dan harus dimusnahkan, kebetulan saya pindahan dari luar ponorogo meski ayah saya asli pponorogo hehehe

    • iswadi berkata:

      assalamu’ bapak boleh saya minta sayu makalah ama bapak tetang “GAMBARAN MASYARAKAT INDONESIA DAN KEBUDAYANNYA

  14. mazblend berkata:

    sangat tidak setuju.. salam kenal om…

  15. Bayu berkata:

    Fenomena ‘jam karet’ memang harus dhilangkan. Mari kita ganti dg ”jam baja/besi”, biar ga ada istilah molor lagi

  16. ranystarry berkata:

    saya tidak setuju!! budaya disiplin aja deh!!😉

  17. shun berkata:

    nah, itulah hebatnya indonesia🙂

    budaya yang kurang baik di pelihara, budaya yg bagus di lupakan…

  18. riiaanz berkata:

    Biarpun postingan 2 taun lalu, tapi tetep ok nih bahasannya.

    Saya sampe malu tiap ketemu bule, yg mereka tau tentang Indonesia cuma budaya jam karetnya. Saya sendiri lebih suka tepat waktu, tapi banyak rekan-rekan yg hobi saling menunggu teman untuk berangkat.

    Kalau begini, bakal susah kalau kerja di luar negeri (Amerika). Menurut mereka, tepat waktu adalah datang 15 menit sebelumnya. Kalau datang tepat jamnya, itu sudah dianggap terlambat.
    Semoga kita bisa menghilangkan budaya ini dari kancah Internasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s