Dibalik kemeriahan Grebeg Suro di PONOROGO: kinerja Dinas Pariwisata

Dalam menyongsong perhelatan event akbar Grebeg Suro XV, 23 Desember 2008, sekaligus hari lahir Kota Ponorogo ke-513, kita patut merenung kembali, tentang eksistensi dan realitas para pejabat pemerintah, khususnya sektor dinas pariwisata. Dan mungkin yang justru menarik, bagaimana sebenarnya potret dinas pariwisata kita? Sebab, bagaimanapun sektor pariwisata merupakan salah satu alat untuk melestarikan, memperkenalkan, dan menunjukkan jati diri daerah itu sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, kita dikagetkan dengan isu-isu yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian Reyog Ponorogo adalah milik negara Malaysia. Bahkan pada waktu itu Bupati kita, Muhadi Suyono menyatakan akan melawan melalui jalur hukum jika terbukti isu benar adanya.

Reyog Ponorogo

Gambar 1: Reyog Ponorogo

Fenomena diatas sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika para pejabat Dinas Pariwisata Ponorogo serius dalam menangani masalah kesenian budaya, khususnya Reyog Ponorogo. Terlihat beberapa titik kelemahan sektor seni kebudayaan kita yang masih menonjol, yaitu sisi pelestarian dan pengenalan secara luas kepada khalayak ramai. Inilah sebenarnya PR utama pejabat Dinas Pariwisata untuk segera memperbaikinya. Tentunya dengan tujuan agar kita tidak kehilangan jati diri Ponorogo melalui kesenian budaya tersebut.

Beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab tidak maksimalnya program pemerintah Ponorogo diantaranya yaitu: kurang meratanya fasilitas untuk berlatih reyog di kota dan di desa, rendahnya penghargaan para seniman budaya, misal: reyog, lemahnya andil sekolah dalam melestarikan seni budaya reyog, kepedulian masyarakat yang kurang, pengelolaan sanggar tari reyog yang tidak profesional, dan masih banyak lagi.

Jika kita mengamati lebih dalam, kesenian budaya di Ponorogo ternyata memiliki cita rasa seni yang begitu menawan dan ciri khas yang tidak kalah dengan daerah lain. Kesenian Reyog misalnya, dengan segala keunikan dan keindahannya, bila dikembangkan secara profesional pasti bisa menyamai ‘Barongsai’ kesenian asal negeri Cina yang mendunia itu atau bahkan melampauinya. Selain itu Ponorogo juga masih memiliki: Telaga Ngebel, Air Terjun Plethuk, Makam R. Bathoro Katong, sampai wisata kulinernya Dawet Njabung dan Sate Ponorogo, yang mengguntungkan bila dikelola secara serius.

Telaga Ngebel

Gambar 2: Telaga Ngebel

Seperti yang penulis sebutkan diatas, sisi pelestarian dan pengenalanlah yang harus diperbaiki dan dikembangkan oleh Pemerintah Ponorogo, jika ingin Dunia Pariwisata kita maju dan tidak diakui lagi oleh negara lain.

Dari sisi pelestarian, salah satu sekolah menengah atas ternama di Ponorogo, SMA N 2 Ponorogo, telah beberapa tahun ini berusaha mendidik para siswa-siswinya untuk selalu cinta dan tidak lupa akan kesenian daerahnya sendiri melalui kegiatan ekstrakulikuler tari. Terbukti Grebeg Suro tahun lalu tim kesenian Reyognya tampil dalam pembukaan event terbesar di Ponorogo ini. Menanggapi hal seperti ini sudah seharusnya pemerintah memberikan dukungan penuh kepada sekolah-sekolah yang mau membantu melestariakan seni budaya warisan leluhur, karena kepada generasi mudalah tonggak prestasi generasi tua akan diteruskan.

jatilan 2

Gambar 3: Tarian Jatilan

Sementara dari sisi pengenalan, pemerintah hendaknya mendukung agar masyarakat bisa ikut membantu mempromosikan seni budaya Ponorogo, lewat bidang yang mereka kuasai. Sebagai salah satu contohnya melalui bidang jual beli. Masyarakat dibantu pemerintah mendirikan sebuah took khusus menjual pakaian, barang-barang suvernir, dan asesoris yang berhubungan dengan Ponorogo, baik dalam segi keindahan alam maupun dari segi kebudayaannya. Cara seperti ini bila dikelola dengan baik bisa menghasilkan omzet yang lumayan besar seperti di Joger, Bali. Selain itu pemerintah juga harus menyeimbangkan pembangunan di kota maupun di desa, agar akses sepeti jalan, hotel, pusat perbelanjaan tersedia dan terkelola dengan baik.

Akhirnya, dapatlah disimpulkan bahwa keberlangsungan pariwisata kesenian budaya di Ponorogo, khususnya Reyog Ponorogo dapat terwujud dengan baik apabila adanya keseriusan dan dedikasi yang tinggi oleh para pejabat Pemerintah Ponorogo. Serta tidak ketinggalan peran serta masyarakat Ponorogo itu sendiri. (Taufik.H.)

11 Tanggapan

  1. mari lestarikan budaya bangsa :)

  2. bukankah setiap bulan purnama dah diadakan pementasan reog?
    tiap kecamatan yang tampil di alun alun tuh?

  3. Betul om, tapi untuk memajukan dunia pariwisata Ponorogo yang lebih oke punya, perlu diperbaiki dan dikembangkan lagi tentunya. Ok……!!! ^_^

  4. aq bangga jdi anak PONOROGO,.,.,.,.,.,
    thank my goood udh ngalihirin aq di PONOROGO tercinta,.,.,.,
    bwat pak bupati untuk menjadikan PONOROGO lbih indah, alngkah baeknya law ditingkatkan lgi kbersihan di Alon” PONOROGO(ptung Singone ambune PESING).
    dan lagi jlan” di PONOROGO di perbaiki lagi, agar lbih nyaman low berkendara di jlanan.

  5. ohz pak stu lgi trotoarnya di prbaeki agar enak buat pejlan kaki.

  6. Grebeg Suro hanya menyisakan kebanggaan bagi penyelenggara dan beberapa yang haus publikasi….
    Perhelatan yang digelar belum mampu memberikan rasa aman secara ekonomi terhadap pekerja seni.
    Seharusnya sejak limabelastahun lalu sudah ada program PNS bagi pekerja seni atau minimal asuransi pendidikan untuk putra-putri seniman sehingga peristiwa Barongan di Negeri Jiran tidak terjadi..

  7. Ok, mari kita bangun ponorogo ini kedepan yang lebih baik lewat kemampuan dan bidang yang kita kuasai, tentunya!

  8. OOOOOOOOOOOIIII…………
    ALOW OM BLOGNYA MAKIN KEREN AJA
    YAHAAAAAAAAAAAAA…………

  9. knpa ini bisa terjadi kebudayaan kita bisa di ambil oleh malaysia. sebenarnya tari itu milik indonesia bkn milik malaysia dasar malaysia negara maling,,…….
    sama kaya nma negara nya yaitu malingsia sesuaikan…………
    dasar peneror indonesia negara kau kirim teroris supaya negara kami jadi kacau dasar negara anjing……………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  10. anjing untuk malaysia,dasar plagiat,ga punya malu,ga tw diri,malaysia bangsat.gw do’ain masuk neraka jahanam.miskin budaya miskin kuliner,miskin…………………………….!!!!!

  11. tambah sip aeeee ponorogo

Tinggalkan Balasan